Renungan selama Ramadhan bisa kita dapatkan dalam buku ini. Ahmad Rifa`i mengajak pembaca untuk menyelami apa arti Ramadhan yang sesungguhnya. Sebuah inspirasi yang menggugah pembacanya, sehingga menjadikan kita lebih banyak melakukan hal bermanfaat selama di bulan Ramadhan. Mungkin sebelum Ramadhan tiba, kita sering melalaikan kewajiban kita. Ramadhan inilah waktu yang tepat untuk kita lebih dekat kepada-Nya.

Editor’s Note
Berisi renungan selama Ramadhan yang bisa dibaca setiap hari. Ditulis dengan bahasa sehari-hari oleh penulis bestseller, Ahmad Rifa`i.

Referensi Bacaan di Bulan Ramadhan

Posted by : Al Barokah 0 Comments
“Jangan bersikap buruk, sebab kelak kamu akan sangat menyesalinya, Nak. Orang akan selalu mengingat perbuatan kita yang salah”, ucapan itu terngiang kembali pada pendengaran pemuda itu, meski ibunya telah mengucapkannya bertahun-tahun yang lalu,
Saat ia masih tinggal di kampung dulu. Hingga beberapa waktu yang lalu, pemuda itu bahkan tidak mengerti mengapa ibunya selalu mengucapkan kata-kata yang sama. Bukan hanya satu atau dua kali saja, namun ibunya kerap mengucapkan kata-kata ini setiap kali ia memberi nasehat atas sikapnya yang kadang kurang baik pada pandangan si ibu.
Pemuda itu mengacuhkannya, sebab apalah arti sebuah nasehat bagi pemuda yang sedang dalam masa-masa remaja, hal ini bahkan kerap dianggap sebagai angin lalu saja. Berulangkali kali si ibu memberi nasehat, berulangkali pula pemuda itu menganggapnya sebagai angin lalu.
Sikap cerobohnya kerap menjadi alasan mengapa pemuda itu sering dinasehati si ibu, hingga si ibu mengibaratkan perbuatannya seperti dua cangkir minuman yang berbeda, yakni teh dan kopi.
Meski begitu, pemuda itu masih saja sering bertindak ceroboh. Sekali waktu, di malam hari ia lupa mengurung induk dan anak ayamnya ke dalam kandang, hingga pada keesokan harinya ketujuh anak ayam itu lenyap dimangsa musang dan hanya tinggal induknya saja, padahal ibunya telah menyuruhnya mengerjakan hal tersebut berulangkali sejak sore.
Lalu di lain waktu, ia juga tidak menutup saluran air yang masuk ke kolam kecil milik ayahnya, hingga air mengalir terus sepanjang malam dan menghanyutkan semua ikan tersebut ke kolam lainnya milik orang lain di tempat yang lebih rendah dari kolam ayahnya.
Kala itu, bukan hanya kolam ayahnya saja yang ikannya terbawa air, namun dua kolam lainnya milik pamannya juga kehilangan banyak ikan.

Tidak mendengar nasehat orangtua

Pada dasarnya ada banyak orang yang ceroboh di dunia ini, dan itu bukan sebuah masalah yang besar, selama mereka mau berubah dan mendengarkan nasehat orang di sekitarnya. Namun, hal serupa tidak terjadi pada pemuda ini, bahkan setelah ia merantau dan bekerja sebagai sekurity di sebuah kantor di kota.
Tugasnya memeriksa semua ruangan setelah pulang kantor dan mengunci pintu utama sebelum akhirnya pulang ke kontrakannya. Telah berulangkali ia diingatkan agar hati-hati dan memeriksa semua ruangan terlebih dahulu, agar kantor ditinggalkan dalam kondisi baik dan aman.
Bukannya melakukan tugasnya dengan baik, ia bahkan kerap tidak memeriksa setiap ruangan, sehingga beberapa lampu seringkali ditinggalkan dalam kondisi tidak padam. Sore itu setelah karyawan lainnya pulang, pemuda itu bergegas dan mengunci pintu utama, tanpa memeriksa setiap ruangan dengan seksama.
Semua berjalan baik, hingga sejam kemudian sebuah panggilan telepon dari atasannya mengatakan bahwa seorang karyawan telah terkunci di kantor mereka.
Atasannya telah berada di kantor, juga beberapa karyawan lainnya yang kebetulan sedang menikmati kopi di kafe sebelah kantor mereka. Pemuda tersebut minta maaf dan mengakui kesalahannya, sehingga ia tidak mendapatkan masalah berarti atas kejadian tersebut. Namun, kejadian ini memberinya satu pelajaran penting, yang tak lain adalah nasehat ibunya. “Ketika kamu berbuat baik, maka hal tersebut serupa secangkir teh hangat yang sedap, saat diaduk aromanya menenangkan dan warnanya tetap sama bahkan setelah lama.
Namun ketika kamu berbuat salah, maka hal tersebut seperti secangkir kopi hitam, saat diaduk aromanya begitu menggoda dan warnanya akan langsung keruh dan hitam, meskipun telah sempat mengendap lama. Demikianlah orang akan selalu mengingat perbuatan salahmu, Nak, meskipun telah lama berlalu.”

Nasehat ibunya benar-benar menjadi kenyataan, sebab sejak hari itu pemuda tersebut selalu menjadi bahan omongan pekerja di sana. Beberapa di antara mereka bahkan sering menyindirnya dengan bercanda, jangan sampai meninggalkan dan mengunci mereka di kantor, seperti karyawan sebelumnya.
Cerita teh dan kopi, dua cangkir dalam nikmat yang berbeda ini mengajarkan kita bahwa pentingnya untuk selalu mendengar nasihat Ibu kita.

Sumber : http://www.sipolos.com/teh-dan-kopi/

Teh Dan Kopi, Dua Cangkir Dalam Nikmat Yang Berbeda

Posted by : Al Barokah 0 Comments

Jan Koum, pendiri WhatsApp, lahir dan besar di Ukraina dari keluarga yang relatif miskin. Saat usia 16 tahun, ia nekat pindah ke Amerika, demi mengejar apa yang kita kenal sebagai “American Dream”.
Pada usia 17 tahun, ia hanya bisa makan dari jatah pemerintah. Ia nyaris menjadi gelandangan. Tidur beratap langit, beralaskan tanah. Untuk bertahan hidup, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih supermarket. “Hidup begitu pahit”, Koum membatin.
Hidupnya kian terjal saat ibunya didiagnosa kanker. Mereka bertahan hidup hanya dgn tunjangan kesehatan seadanya. Koum lalu kuliah di San Jose University. Tapi kemudian ia memilih drop out, karena lebih suka belajar programming secara autodidak.
Karena keahliannya sebagai programmer, Jan Koum diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo!. Ia bekerja di sana selama 10 tahun. Di tempat itu pula, ia berteman akrab dengan Brian Acton.
Keduanya membuat aplikasi WhatsApp tahun 2009, setelah resign dari Yahoo!. Keduanya sempat melamar ke Facebook yang tengah menanjak popularitasnya saat itu, namun diitolak. Facebook mungkin kini sangat menyesal pernah menolak lamaran mereka.
Setelah WhatsApp resmi dibeli Facebook dengan harga 19 miliar dollar AS (sekitar Rp 224 triliun) beberapa hari lalu, Jan Koum melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke tempat dimana ia dulu, saat umur 17 tahun, setiap pagi antre untuk mendapatkan jatah makanan dari pemerintah. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antre. Mengenang saat-saat sulit, dimana bahkan untuk makan saja ia tidak punya uang.. Pelan2, air matanya meleleh. Ia tidak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan nilai setinggi itu.
Ia lalu mengenang ibunya yg sudah meninggal karena kanker. Ibunya yang rela menjahit baju buat dia demi menghemat. “Tak ada uang, Nak…”. Jan Koum tercenung. Ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita bahagia ini kepada ibunya.
Rezeki datang dari arah dan bentuk yang tidak terduga. Remaja miskin yg dulu dapat jatah makan itu kini jadi Triliuner
Sumber : https://iphincow.com

Kisah Pendiri WhatsApp

Posted by : Al Barokah

- Copyright © Mawar Hitam - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -